7 Tanda Bahaya Setelah Melahirkan yang Harus Diwaspadai

Menjalani kehamilan dan proses persalinan merupakan perjuangan bagi setiap Bunda. Namun setelah melahirkan, Bunda juga perlu waspada karena Bunda akan mulai memasuki masa nifas. Masa nifas merupakan istilah untuk waktu pemulihan bagi Bunda setelah menjalani proses melahirkan.

Umumnya masa nifas dihitung tepat sejak Bunda melahirkan hingga enam minggu setelahnya. Dengan kata lain, masa nifas berlangsung kira-kira 40-42 hari setelah ibu melahirkan bayi baik secara normal maupun operasi caesar.

Pada masa nifas, tubuh Bunda akan mengalami berbagai perubahan terutama pada rahim, leher rahim (serviks), dan vagina. Semua organ yang berperan dalam proses reproduksi ini akan secara bertahap berubah ke semula seperti saat sebelum Bunda hamil.

Perubahan kondisi tubuh saat masa nifas dapat membuat tubuh Bunda menjadi rentan mengalami masalah kesehatan. Untuk itu, Bunda perlu memperhatikan beberapa tanda bahaya masa nifas yang dapat menjadi gejala komplikasi kesehatan serius.

Tanda Bahaya saat Masa Nifas

Setelah melahirkan, umumnya Bunda akan mengalami beberapa gejala normal pasca melahirkan seperti keluar darah dari vagina, sulit menahan buang air kecil, payudara bengkak, atau rambut rontok. Namun, ada beberapa gejala yang dapat menjadi tanda bahaya setelah melahirkan. Beberapa gejala tersebut di antaranya:

1. Sakit kepala berat dan penglihatan kabur

Sakit kepala merupakan hal yang wajar dialami saat pasca melahirkan terutama apabila berkaitan dengan prosedur operasi sesar. Gejala ini biasanya dirasakan dalam waktu 24 jam hingga beberapa hari setelah melahirkan. Namun sakit kepala setelah melahirkan umumnya tidak terlalu menyakitkan dan masih dalam tahap ringan.

Jika sakit kepala yang Bunda rasakan cenderung berat dan disertai dengan penglihatan yang mulai kabur, adanya mual muntah, nyeri ulu hati, hal ini dapat menjadi tanda bahaya masa nifas yang perlu diwaspadai. Sakit kepala berat, penglihatan kabur, serta tekanan darah tinggi yang terjadi setelah melahirkan merupakan gejala awal dari preklamsia yang dapat menyebabkan kejang (eklamsia), koma, hingga kematian jika tidak segera ditangani.

2. Demam

Setelah melahirkan, umumnya suhu tubuh akan naik 0,5°C dan kembali normal setelah 24 jam. Namun, jika Bunda mengalami demam tinggi dan tubuh menggigil yang tak kunjung reda, kondisi ini dapat menjadi pertanda adanya infeksi.

Demam tinggi yang melebihi 38°C saat pasca melahirkan merupakan salah satu tanda bahaya masa nifas yang patut diwaspadai. Hal ini merupakan salah satu gejala infeksi terutama jika disertai dengan nyeri pada bagian perut, payudara, selangkangan atau bekas jahitan (baik pada luka operasi atau pada jalan lahir), keluar cairan yang berbau pada jalan lahir.

3. Sesak nafas

Tanda bahaya masa nifas selanjutnya adalah sesak nafas. Nyeri dada yang disertai sesak nafas dapat menjadi gejala emboli paru atau penyumbatan aliran darah di paru-paru. Dalam beberapa kasus, sesak napas setelah melahirkan juga dapat menjadi pertanda kardiomiopati post partum atau peripartum cardiomyopathy (PPCM). Kondisi gagal jantung yang dapat mengancam nyawa ini biasanya muncul di trimester akhir kehamilan atau lebih sering dialami pada 5-6 bulan pertama setelah melahirkan.

4. Nyeri pada kaki

Jika Bunda merasakan nyeri yang tak tertahankan pada kaki terutama pada bagian betis setelah melahirkan, sebaiknya Bunda perlu berhati-hati. Nyeri pada kaki yang hebat, pembengkakan, kemerahan yang disertai rasa panas merupakan gejala penggumpalan darah yang dapat dialami pada pasca melahirkan. Kondisi ini biasanya disebut dengan istilah deep vein thrombosis (DVT).

Risiko DVT dapat dialami saat masa kehamilan sampai enam minggu setelah melahirkan. Jika dibiarkan, pembekuan darah ini dapat membuat ibu yang baru melahirkan mengalami stroke hingga serangan jantung.

5. Perut terasa nyeri

Nyeri pada perut merupakan hal yang normal dialami oleh Bunda yang baru melahirkan. Hal ini terjadi karena organ tubuh sedang mengalami perubahan untuk kembali ke kondisi normal. Namun jika nyeri yang dirasakan cukup hebat dan disertai demam, perdarahan vagina berlebihan, mual, muntah, serta timbul kemerahan di sekitar bekas luka operasi caesar, hal ini dapat menjadi pertanda adanya infeksi yang serius.

6. Perdarahan pada vagina yang berlebihan

Perdarahan dari vagina merupakan hal yang umum dialami pada saat masa nifas. Perdarahan nifas normal umumnya berlangsung 2-6 minggu setelah melahirkan. Namun, jika perdarahan yang terjadi cukup parah, hal ini dapat menjadi salah satu tanda bahaya masa nifas.

Jika perdarahan yang dialami berlebihan dan membuat Bunda mengganti pembalut setiap jam, keluar darah segar baik dalam keadaan bergumpal-gumpal ataupun mengalir seperti air, kondisi ini termasuk ke dalam kategori abnormal. Gejala infeksi ini juga dapat disertai dengan rasa lemas, pucat, penurunan tekanan darah, bingung, gelisah, pusing, dan detak jantung yang tidak teratur.

7. Depresi

Perubahan hormon yang mempengaruhi suasana hati serta tanggung jawab dalam menjalani peran baru sebagai ibu tak jarang membuat ibu yang baru melahirkan menjadi depresi. Kondisi ini biasanya dikenal dengan istilah depresi postpartum.

Depresi postpartum adalah kondisi ketika seorang ibu merasakan sedih, bersalah, dan stres dalam jangka waktu lama setelah melahirkan. Kondisi ini umumnya dialami oleh Bunda yang pertama kali melahirkan.

Depresi partum sering juga disebut dengan istilah baby blues. Hal ini dapat sangat berpengaruh pada kesehatan Bunda dan Si Kecil karena depresi dapat menyebabkan gangguan tidur, gangguan makan, dan kehilangan semangat dalam beraktivitas.

Setiap Bunda memerlukan masa pemulihan setelah melahirkan agar tubuh dapat kembali ke kondisi semula dan sehat seperti sedia kala. Dalam masa nifas tersebut, Bunda sebaiknya memperhatikan segala gejala yang terjadi pada tubuh Bunda. Jika Bunda mengalami beberapa tanda bahaya masa nifas yang telah disebutkan di atas, segera hubungi dokter agar Bunda mendapatkan penanganan yang tepat sehingga gejala tersebut tidak menimbulkan komplikasi yang lebih serius.

8. Perut membesar tiba-tiba

Perut yang membesar tiba-tiba pada masa nifas merupakan suatu tanda bahaya. Seharusnya setelah melahirkan, ukuran perut akan kembali mengecil bila dibandingkan dengan ukuran pada saat hamil. Bila perut mengalami peregangan, tidak dapat flatus (buang angin), serta disertai keluhan tidak bisa BAB, maka hal tersebut harus dilaporkan ke dokter Spesialis Kandungannya. Keadaan ini biasanya berkaitan dengan metode persalinan secara seksio sesaria, terlebih jika pembiusan dilakukan secara umum (bius total). Efek obat bius akan berpengaruh terhadap kerja usus. Usus akan lambat bergerak kembali, sehingga usus akan berdistensi (melebar). 

9. Payudara bengkak

Pembengkakan pada payudara dapat disertai dengan infeksi ataupun tanpa infeksi. Bila hanya terjadi pembengkakan dan timbul rasa nyeri pada payudara saja (breast engorgement), Bunda masih bisa menyusui/ memompa/ memijat untuk mengosongkan payudara, karena pembengkakan tersebut terjadi karena ASI membendung terkumpul di dalam payudara. Namun bila Bunda sudah mengalami demam, dan pada keadaan ekstrim dapat keluar nanah dari payudara, berarti Bunda sudah mengalami infeksi pada payudara (mastitis). Hal ini harus diberitahukan ke dokter Kandungannya Bunda ya. Dokter akan memberikan obat-obatan antibiotika dan pereda nyeri untuk keadaan tersebut.

BACA: Perdarahan Postpartum yang Normal dan Abnormal, Apa Bedanya?

Sumber:

Healthline. 2019. Postpartum Complications: Symptoms and Treatments

What to Expect. 2021. Postpartum Complications and Warning Signs

Webmd. 2020. Postpartum Depression

By dr. Andri Welly, Sp. OG

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *