Bayi Diberikan Bedak, Amankah?

bedak bayi

Sampai saat ini, penggunaan bedak bayi masih menimbulkan kontroversi. Ada ahli yang menilai bahwa bedak bayi tidak memberi manfaat medis, bahkan dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Walau begitu, masih ada dokter yang mengizinkan penggunaan bedak pada bayi selama dilakukan sesuai aturan. Bagaimana Bunda harus menyikapinya?

Alasan Penggunaan Bedak di Kulit Bayi

bedak bayi

Sejak puluhan tahun lalu, bedak bayi menjadi salah satu produk perawatan kulit bayi yang wajib tersedia di rumah. Bedak ini umumnya terbuat dari sejenis mineral dari tanah bernama talk (talc), tepung maizena, tepung ararut, atau tepung lainnya. Bahan-bahan ini dapat membantu menyerap kelembapan di kulit bayi, sehingga terjaga tetap kering. 

Bedak umumnya digunakan untuk mencegah atau merawat kulit bayi yang mengalami ruam dan muncul bintil-bintil kecil kemerahan. Penyebabnya adalah biang keringat dan pemakaian popok. 

Selain itu, bedak juga umum diusapkan ke kulit bayi setelah mandi untuk membuat kulitnya kering lebih lama, halus, dan harum.

Karena klaim manfaat ini, maka bedak bayi umumnya diusapkan di daerah lipatan yang mudah lembap, seperti leher, ketiak, selangkangan, siku, dan belakang lutut. Selain itu, untuk mencegah ruam popok, bedak juga biasa diusapkan di kulit bokong dan area kelamin bayi.  

Kontroversi Seputar Bedak Bayi dan Penyebabnya

Bedak bayi mulai menimbulkan kontroversi pada dekade ‘70-an. Saat itu bermunculan gugatan hukum kepada salah satu produsen produk perawatan kulit bayi ternama di dunia. Gugatan hukum ini umumnya dilakukan oleh perempuan berkaitan dengan penyakit kanker rahim yang diprediksi dipicu oleh penggunaan bedak bayi selama puluhan tahun di area vagina. 

Beberapa penelitian yang dilakukan memberi hasil bahwa serbuk bedak yang masuk ke vagina dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker rahim walau risikonya tergolong kecil. 

Selain itu, mineral talc juga dapat terkontaminasi asbestos. Jika talc yang terkontaminasi tersebut terdapat dalam bedak, maka dapat memicu munculnya masalah kesehatan lain.

Kekhawatiran lainnya adalah partikel-partikel bedak dapat terhirup oleh bayi dan menyebabkan gangguan di sistem pernapasan. Gangguan ini bisa berbentuk sesak napas, batuk, pernapasan dangkal, dan iritasi di paru-paru. 

Jika bayi sensitif terhadap bahan kandungan bedak, maka terlalu sering menghirup partikel bedak dapat menyebabkan asma bahkan pneumonia.

Beberapa cara digunakan untuk menyiasati masalah ini, salah satunya adalah dengan mengganti bahan utama bedak bayi, yaitu talc, dengan tepung maizena. Namun masalah baru muncul karena penggunaan bedak jenis ini dapat memperburuk kondisi ruam kulit yang disebabkan jamur candida.

Karena risiko-risiko kesehatan dari penggunaan bedak ini, maka beberapa institusi kesehatan ternama di dunia memberi peringatan tentang penggunaannya. Misalnya Agency for Research on Cancer dari WHO memperingatkan bahwa penggunaan bedak di bokong dan area kelamin “mungkin dapat menyebabkan kanker pada manusia”.  

Sementara CDC (Center for Disease Control and Prevention) dan OSHA (Occupational Safety and Health Administration) di Amerika Serikat memberi peringatan bahwa menghirup bedak berulang kali dapat menyebabkan gangguan di paru-paru.

Perlukah Menggunakan Bedak Bayi?

bedak bayi

Para ahli telah menyebutkan bahwa bedak tidak memiliki manfaat medis, sehingga tidak perlu untuk digunakan pada bayi. Lalu bagaimana jika bayi mengalami masalah ruam kulit? 

Bunda dapat mengatasinya dengan cara-cara berikut:

  • Gantilah popok yang sudah basah dan kotor sesegera mungkin.
  • Pada saat mengganti popok bayi, angin-anginkan dulu bokong bayi selama beberapa menit agar dapat kering alami.
  • Jika kulit bayi rentan mengalami ruam, maka Bunda dapat menggunakan krim berbahan dasar petroleum atau zinc oxide yang membentuk lapisan pelindung di permukaan kulit.

Jika karena alasan-alasan tertentu Bunda masih menggunakan bedak bayi, maka lakukanlah dengan mengikuti anjuran IDAI berikut ini:

  • Pilih bedak yang terbuat dari bahan mineral seperti talc karena ringan, lembut, dan netral.
  • Hindari menaburkan bedak langsung ke kulit bayi. Sebaiknya, taburkan bedak ke telapak tangan Bunda terlebih dahulu, ratakan di kedua telapak tangan, baru usapkan di kulit bayi. Cara ini membuat bedak menjadi lebih halus dan tidak menggumpal di kulit bayi.
  • Pastikan kulit bayi bersih dan kering saat diusapkan bedak bayi.
  • Hindari mengusapkan bedak secara langsung di kulit bayi yang tidak utuh (luka) atau di area yang memiliki selaput lendir (di antaranya saluran pernapasan, pencernaan, dan reproduksi).
  • Hindari mengusapkan bedak di wajah bayi karena partikelnya dapat terhirup bayi.

Melihat Jika terjadi iritasi dan kondisi kulit bayi memburuk, maka segera hentikan penggunaan bedak. Berkonsultasilah dengan dokter mengenai cara penanganan ruam kulit bayi, baik akibat biang keringat dan penggunaan popok, tanpa penggunaan bedak.

Sumber:

IDAI. 2014. Memilih Produk Kulit untuk Si Kecil

What to Expect. 2021. Is Baby Powder Safe to Use During Diaper Changes?

Healthline Parenthood. 2018. Is Baby Powder Safe?

Verywell Family. 2019. Is Baby Powder Safe for Babies?

By dr. Fatimah Hidayati, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *