Mikrosefalus, Kondisi Kepala Bayi Lebih Kecil dari Ukuran Normal

mikrosefalus, diary bunda

Sudah pernah dengar soal mikrosefalus belum? Mikrosefalus adalah kondisi ketika kepala bayi berukuran lebih kecil dari ukuran normalnya. Meski bayi dengan mikrosefalus masih bisa tumbuh dengan baik, ada beberapa risiko yang bisa terjadi apabila mikrosefalus sudah berat. Yuk, ketahui soal mikrosefalus di sini, Bunda!

Mikrosefalus atau disebut juga mikrosefali termasuk dalam kondisi yang langka, yaitu hanya terjadi pada sekitar 1 atau 2 bayi per 10.000 kelahiran. Penyakit ini biasanya terjadi sejak bayi masih berada di dalam kandungan, tetapi terkadang bisa juga terjadi setelah bayi dilahirkan.

Penyebab Mikrosefalus 

Penyebab mikrosefalus adalah perkembangan otak yang tidak normal. Inilah beberapa faktor yang bisa menyebabkan bayi mengalami gangguan perkembangan otak dan meningkatkan risiko terjadinya mikrosefalus:

  • Cacat bawaan lahir atau kelainan genetik
  • Infeksi pada ibu saat hamil, seperti rubella, toksoplasmosis, herpes, cytomegalovirus, serta virus Zika
  • Kelainan pada struktur tengkorak bayi, seperti kondisi ubun-ubun menutup lebih cepat (craniosynostosis)
  • Kekurangan nutrisi pada ibu hamil sehingga bayi tidak mendapatkan cukup gizi
  • Paparan zat berbahaya pada ibu saat hamil, seperti logam berat, alkohol, rokok, atau NAPZA
  • Komplikasi saat masa kehamilan atau persalinan, seperti kekurangan pasokan oksigen ke otak janin 
  • Gangguan metabolisme pada janin, misalnya fenilketonuria

Gejala Mikrosefalus

Gejala utama mikrosefalus adalah ukuran kepala bayi yang jauh lebih kecil dari ukuran normalnya. Ukuran kepala bayi ini mengikuti ukuran otak bayi. Jadi, apabila otak bayi kecil, ukuran kepalanya juga kecil. Tanda ini bisa diketahui melalui pemeriksaan lingkar kepala bayi oleh dokter.

Selain ukuran kepala bayi yang jauh lebih kecil, ada juga berbagai gejala yang umum terjadi pada bayi dengan mikrosefalus, yaitu:

  • Bayi menangis sangat nyaring
  • Kesulitan menyusu atau menelan
  • Gangguan pendengaran
  • Gangguan penglihatan
  • Tumbuh kembang terhambat, seperti telat berjalan atau bicara
  • Tubuh pendek
  • Gangguan keseimbangan atau koordinasi 
  • Kesulitan dalam belajar
  • Kejang

Pada beberapa kasus yang berat, bayi dengan mikrosefalus juga memiliki bentuk dahi yang miring. Gejala-gejala yang dapat dialaminya pun bisa menjadi berbahaya dan mengancam jiwa apabila tidak diobati.

Cara Mengatasi Mikrosefalus

Tidak ada pengobatan untuk mikrosefalus, ya, Bun. Jadi, sekali bayi mengalami mikrosefalus, tak ada pengobatan yang bisa mengubah ukuran kepala bayi menjadi normal.

Meski begitu, dokter bisa melakukan beberapa penanganan untuk mengendalikan gejala mikrosefalus, Bun. Adapun beberapa penanganannya adalah:

  • Memberikan suplemen untuk mencukupi asupan gizi bayi
  • Memantau dan mengontrol tumbuh kembang bayi
  • Memberikan fisioterapi, seperti terapi wicara, agar bayi bisa berbicara, makan, dan minum dengan normal
  • Memberikan obat-obatan untuk mengontrol gejala kejang dan hiperaktif, serta meningkatkan fungsi saraf dan otot

Nah, itulah berbagai info tentang mikrosefalus, Bun. Penyakit yang berbahaya ini memang belum bisa diobati, tetapi ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. 

Bunda bisa melakukan beberapa cara di bawah ini untuk mencegah terjadinya mikrosefalus pada Si Kecil sekaligus untuk memastikan kehamilan berjalan lancar dan sehat:

  • Konsumsi makanan sehat dengan gizi lengkap dan seimbang.
  • Minum suplemen kehamilan secara rutin sesuai anjuran dokter.
  • Jangan merokok dan jauhi diri dari asap rokok.
  • Jaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
  • Jauhkan diri dari paparan zat-zat kimia beracun.
  • Jangan mengonsumsi minuman beralkohol.

Yang paling penting, Bunda perlu selalu melakukan kontrol kehamilan secara rutin sesuai jadwal, ya. Soalnya, dengan kontrol kehamilan, segala kelainan dan gangguan pada bayi saat dalam kandungan bisa terdeteksi lebih awal. Dengan demikian, dokter bisa memberikan penanganan dan mengantisipasi masalah yang terjadi pada janin, termasuk mikrosefalus.

Sumber:

World Health Organization (2018). Fact Sheets. Microcephaly.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2022). Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. Mikrosepali.

Boston Children’s Hospital. Microcephaly.

Cleveland Clinic (2023). Diseases & Conditions. Microcephaly.

Mayo Clinic (2022). Diseases & Conditions. Microcephaly.

Burke, D. Healthline (2019). What to Know About Microcephaly.

Falchek, S. MSD Manual Consumer Version (2023). Microcephaly.

Herndon, J. Verywell Family (2019). What Is Microcephaly?

By dr. Kevin Adrian Djantin

Project and Collaboration Medical Editor Alodokter

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *