Skrining yang Akan Dijalani Bayi Baru Lahir

skrining bayi baru lahir

Setelah bayi lahir, biasanya akan segera dilakukan beberapa tes dan skrining. Apa saja jenisnya, mengapa penting, dan apa yang harus dilakukan orang tua setelah mendapatkan hasil skrining bayi baru lahir tersebut? Baca penjelasan berikut.

Tujuan Skrining Bayi Baru Lahir

skrining bayi baru lahir

Selama kehamilan, kondisi si Kecil dipantau dengan pemeriksaan USG. Setelah lahir, bayi perlu diperiksa secara langsung dengan tujuan mendeteksi atau melakukan intervensi dini secara lebih optimal. 

Dari hasil tes dan skrining ini, dukungan terhadap tumbuh kembang akan dapat dilakukan lebih baik. 

Macam-macam Skrining Bayi Baru Lahir

skrining bayi baru lahir

Beberapa macam tes yang dilakukan pada si Kecil yang baru lahir adalah sebagai berikut:

1. Tes Pendengaran

Salah satu skrining yang rutin dilakukan di rumah sakit adalah melakukan tes indra pendengaran. Tes ini terdiri dari dua jenis, yaitu:

Otoacoustic Emissions (OAE) 

OAE biasanya dilakukan pada bayi baru lahir yang berusia 2–28 hari, bertujuan untuk mengetahui kondisi indra pendengaran untuk menilai sela rambut yang terdapat di rumah siput (koklea).

Automated Auditory Brainstem Response (AABR)

Ini adalah pemeriksaan pendengaran yang bertujuan untuk menilai keseimbangan saraf pendengaran. 

Pada umumnya OAE merupakan skrining pertama yang dilakukan pada bayi baru lahir terutama pada bayi yang memiliki faktor risiko terjadinya gangguan pendengaran seperti bayi prematur, bayi dengan riwayat sepsis, bayi dengan riwayat keluarga gangguan pendengaran, dll. Jika hasil skrining OAE tidak normal, dokter akan menentukan untuk melakukan tes pemeriksaan selain OAE.

2. Hipotiroid kongenital

Ini adalah skrining pada bayi baru lahir untuk mendeteksi kemungkinan adanya hipotiroid kongenital yang bisa membuat pengidapnya mengalami gangguan pertumbuhan atau kelainan mental. 

Jika tidak melakukan skrining, penyakit ini dapat saja baru dikenali saat ada gejala pada anak berusia kurang lebih satu tahun. Skrining hipotiroid kongenital sebaiknya dilakukan saat bayi berusia 48-72 jam atau sebelum bayi pulang bersama orang tua dari rumah sakit.

3. Oksimetri pulsa

Pengujian ini bertujuan untuk mengecek kadar oksigen dalam darah bayi. Jika kadar oksigen dalam darah rendah atau fluktuatif, bisa jadi itu adalah tanda adanya penyakit jantung bawaan

4. Penyakit kuning

Bunda tentu sudah cukup familiar dengan tes ini, di mana bayi akan diperiksa kadar bilirubinnya, yang biasa terlihat dengan “bayi kuning”. Dokter akan melakukan tes darah atau menggunakan light meter yang bisa mendeteksi bilirubin melalui kulit. Bila si Kecil terlihat kuning hingga ke tungkai, si Kecil mungkin perlu menjalani terapi sinar.

5. Tes penglihatan (terutama untuk bayi lahir prematur)

Tes penglihatan yang disebut juga dengan skrining Retinopathy of Prematurity (ROP) perlu dilakukan pada bayi prematur karena jika ditemukan adanya perdarahan atau gangguan, hal tersebut merupakan salah satu penyebab kebutaan bayi dan anak.

Pengujian ROP dilakukan pada bayi baru lahir dengan berat kurang dari 1500 gram atau yang lahir dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu. Pengujian ini juga dilakukan kepada bayi dengan risiko tinggi, yakni bayi yang: 

  • mendapat fraksi oksigen (Fi O2) tinggi
  • mendapat transfusi berulang
  • memiliki kelainan jantung bawaan
  • mengalami gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, infeksi/sepsis
  • memiliki gangguan napas
  • asfiksia
  • perdarahan di otak (IVH)

Selain itu, pengujian indera penglihatan ini juga dilakukan untuk mendeteksi terjadinya kondisi: 

  • katarak bawaan
  • retinoblastoma
  • kemungkinan adanya penyakit metabolik karena adanya riwayat dalam keluarga

Di mana Melakukan Skrining Bayi Baru Lahir?

Skrining bayi baru lahir bisa dilakukan di rumah sakit tempat bayi dilahirkan, maupun di berbagai laboratorium yang menyediakan fasilitas skrining bayi baru lahir. 

Beberapa rumah sakit juga sudah menjadikan skrining ini sebagai standar pemeriksaan kesehatan anak. Sehingga Bunda tidak perlu repot mencari atau membawa si Kecil ke laboratorium yang terpisah. 

Prosedur Skrining Bayi Baru Lahir

Biasanya skrining bayi baru lahir dimulai dengan mengumpulkan sampel darah dalam jumlah kecil, dengan menusuk tumit bayi. Dalam proses ini, Bunda biasanya diperbolehkan untuk ikut dan mendampingi si Kecil. 

Setelah itu, petugas kesehatan akan meletakkan sampel pada kartu kertas filter untuk membuat beberapa “titik darah kering.” Kartu skrining tersebut kemudian akan dikirim ke laboratorium untuk dianalisis. Selanjutnya, hasil akan diinformasikan kepada Bunda oleh dokter. 

Bila Terdapat Kelainan pada Hasil Skrining

Jika hasil skrining bayi baru lahir kurang baik atau ada yang positif, biasanya pihak rumah sakit akan menghubungi Bunda untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. 

Bila diperlukan perawatan khusus, maka dokter akan segera meminta Bunda untuk melakukannya sesegera mungkin. Ikuti semua arahan dari dokter ya Bun, agar si Kecil bisa berkembang lebih baik dan sehat.

Sumber:

IDAI. 2017. “Skrining” pada Bayi Baru Lahir, yang Perlu Diketahui oleh Orangtua.

P2PTM Kementerian Kesehatan RI. 2018. Skrining apa saja yang biasanya dilakukan pada bayi baru lahir?

Pop Mama. 2018. 5 Jenis Pemeriksaan Penting yang Perlu Dilakukan pada Bayi Baru Lahir.

Kid’s Health. 2019. Newborn Screening Tests.

By dr. Arnold Soetarso, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *