I Message: Komunikasi Efektif untuk Cegah Konflik

Menjadi ibu adalah pekerjaan yang sangat berat dan melelahkan, sehingga sering kali saat sedang kesal dan marah, tanpa sadar mungkin Bunda melontarkan kata-kata yang buruk, sehingga membuat lawan bicara menjadi ikut terpancing. Tak hanya itu, hal ini juga tidak meredakan masalah, justru membuat situasi makin memanas.

Contohnya: “Kamu lembur terus! Beneran kerja atau selingkuh sih?” , “Kamu pulang kerja enak ya langsung main handphone. Kamu nggak pernah bantu aku ngurus si adek.”

Coba Bunda ingat kembali, apakah Bunda pernah mengatakan hal semacam itu dengan pasangan? Kalimat semacam itu cenderung menyudutkan lawan bicara dan malah menimbulkan konflik.

Mungkin harapan awal Bunda adalah membuat pasangan mengerti, tapi justru ucapan tersebut malah membuat lawan bicara bingung apa yang Bunda inginkan, bahkan bisa merasa tidak dihargai. Bila Bunda memang ingin dimengerti, didukung, dan dibantu, coba yuk untuk menerapkan ‘I message’, dalam berkomunikasi. 

Apa itu I message?

‘I message’ adalah cara untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran dengan pembicaraan yang fokus dengan kata “aku”. Teknik komunikasi ini berbeda dengan “You message” yang cenderung memojokan lawan bicara. ‘I message’ menggunakan “aku” yang memungkinkan kita  untuk mengungkapkan perasaaan dan bertanggung jawab pada pemikiran diri sendiri daripada menyalahkan orang lain.  Cara berkomunikasi seperti ini dinilai lebih efektif dan dapat menyentuh perasaan lawan bicara, baik pasangan, anak, atau orang lain.

Misalnya, bila Bunda merasa keberatan bila suami tetap bekerja saat liburan. Dibandingkan mengatakan “Kamu kenapa sih liburan masih kerja? Nyebelin deh”, lebih baik katakan “Aku sedih. Padahal kita sedang liburan, tapi kamu tetap sibuk sama pekerjaan dan tidak punya waktu sama aku”. Bunda bisa menambahkan keinginan atau harapan yang jelas pada pasangan, seperti “aku ingin saat liburan, kamu taruh dulu teleponnya ya saat kita sedang berkegiatan bersama. Bisa loh sampaikan bahwa kamu slow response untuk sementara”. 

Bunda bisa amati beda dua kalimat tersebut? Pada kalimat pertama, pasangan dapat menjadi kesal karena merasa disalahkan. Bunda pun jengkel karena tidak dimengerti, sedangkan pasangan tidak paham apa yang Bunda inginkan. Sedangkan kalimat kedua lebih menyatakan apa yang Bunda rasakan, serta solusi yang dapat diterapkan dalam kondisi tersebut.

Pentingnya I Message

Penggunaan kalimat ‘You message’ yang di awali kata “kamu” cenderung membuat pasangan merasa dituduh, disalahkan, dianggap bodoh, dan lainnya. Apalagi jika kalimat ini dikombinasikan dengan nada intonasi yang tinggi serta bahasa tubuh yang negatif.

Alih-alih sadar, lawan bicara bisa jadi makin menjadi kesal. Saat menerima pesan yang dianggap negatif, lawan bicara cenderung menjadi lebih defensif. Lalu, mereka akan berusaha untuk membela diri sehingga kemungkinan besar mereka bisa jadi berbalik marah.  

Bukannya menyelesaikan masalah, ‘You message’ bisa membuat Bunda jadi saling menyalahkan dan konflik justru bertambah besar. Oleh karena itu, ‘I message’ sangat penting untuk diterapkan sehari-hari, terutama saat menghadapi suatu masalah. Berikut ini beberapa manfaat ‘I message’ lainnya, yaitu:

  1. Tidak memojokkan lawan bicara

Kalimat ‘I message’ dapat lebih fokus menyampaikan apa yang Bunda rasakan sehingga tidak menyinggung atau menyalahkan pasangan. Perlu diingat, saat melakukan ‘I message’, Bunda harus bisa menyampaikan pesan dengan tenang, tidak menaikan intonasi, dan menggunakan bahasa tubuh yang rileks. Dengan begitu, lawan bicara akan lebih mendengarkan dengan tenang tanpa emosi, serta lebih mengerti dengan pesan yang disampaikan. Kemudian, kesalahpahaman pun bisa dihindari.

  1. Pesan tersampaikan dengan baik

Saat mendengar dan paham dengan apa yang ingin Bunda sampaikan, lawan bicara bisa lebih mengerti pesan yang ingin disampaikan. Lawan bicara menjadi paham apa yang Bunda rasakan, pikirkan, dan harapkan dengan jelas. Tujuan komunikasi pun terpenuhi serta menghindari koflik akibat kesalahpahaman. 

  1. Menumbuhkan komunikasi positif

Ketika digunakan dengan benar, pernyataan “aku” dapat membantu menumbuhkan komunikasi positif dalam hubungan. Hal ini juga dapat membantu Bunda dan pasangan menjadi lebih kuat karena berbagi perasaan dan pikiran dengan cara yang jujur ​​dan terbuka. Selain itu, ‘I message’ juga dapat membantu Bunda dan pasangan tumbuh lebih dekat secara emosional.

Cobalah melakukannya dengan bahasa yang paling sesuai dengan Bunda. Contohnya, jika Bunda terbiasa memanggil dengan sebutan sayang, gunakan saja panggilan itu.

Tentu akan terasa aneh dan sulit jika belum terbiasa. Pasangan Bunda juga tentu masih beradaptasi sehingga responnya tidak seperti yang diharapkan. 

Kunci dalam pernikahan yang kuat adalah komunikasi. Komunikasi tidak hanya sekadar bicara, tapi mengolah kata-kata yang kita ucapkan agar lawan bicara mengerti apa yang ingin kita sampaikan. Komunikasi yang efektif membutuhkan proses dan latihan.

Menyampaikan isi pesan melalui “I-message” memang sukar, namun semakin banyak berlatih, maka Bunda dan pasangan akan makin mahir. Dengan komunikasi yang lebih baik, maka akan terjalin hubungan yang lebih solid. 

Sumber

Good Therapy. 2015. “I” Message

Boston University. “I” Messages or “I” Statements

By Mardiana Hayati Solehah, M. Psi, Psikolog

Psikolog Klinis

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *