Bayi Susah BAB, Apa Ya Penyebabnya?

bayi susah bab, diary bunda

Bayi susah BAB biasanya akan tampak rewel atau bahkan kesakitan saat ia sedang hendak buang air besar. Hal ini bisa disebabkan oleh makanan tertentu, tetapi terkadang bisa juga menandakan adanya gangguan kesehatan. Duh, gimana dong kalau Si Kecil mengalaminya? Tenang, yuk kita simak apa saja penyebab bayi susah BAB dan kenali mana yang normal dan tidak, Bun.

Setiap bayi memiliki pola buang air besar (BAB) yang berbeda-beda, Bun. Pola ini tergantung pada susu atau makanan yang dikonsumsi bayi. Bayi bisa saja baru BAB setelah beberapa hari sekali atau bahkan 1 minggu sekali. Hal ini karena saluran cerna bayi masih berkembang.

Jadi, kapan bayi dikatakan susah BAB atau sembelit? Jawabannya adalah ketika kotoran bayi terlihat sangat kering, keras, dan sulit dikeluarkan. Selain itu, saat mengalami sembelit, Si Kecil juga biasanya akan lebih rewel, gumoh, dan perutnya akan terasa lebih kencang dari biasanya.

Penyebab Bayi Susah BAB

Ada berbagai hal yang bisa menyebabkan bayi susah buang air besar, Bun. Berikut ini adalah penjelasannya:

1. Konsumsi susu formula

Umumnya, bayi yang minum susu formula lebih rentan terkena sembelit daripada bayi yang minum ASI. Soalnya, kandungan protein di dalam susu formula berbeda dengan kandungan protein pada ASI. Hal ini membuat sistem pencernaan bayi akan mencerna protein pada susu formula lebih lama sehingga membuatnya lebih susah BAB.

Sembelit juga bisa terjadi pada bayi yang awalnya mengonsumsi ASI lalu berpindah ke susu formula lho, Bun. Ini karena sistem pencernaan perlu beradaptasi dahulu terhadap apa yang dicernanya. Tidak hanya itu, apabila Si Kecil beralih jenis atau merek susu formula, ia juga bisa mengalami susah BAB.

Si Kecil juga bisa mengalami sembelit apabila bahan yang ada di dalam susu formula tidak cocok dengannya, Bun. Jadi, untuk memastikannya, Bunda perlu berkonsultasi ke dokter, ya.

2. Dehidrasi

Dehidrasi merupakan salah satu penyebab bayi susah BAB. Hal ini terjadi karena tubuh bayi yang dehidrasi cenderung lebih banyak menyerap cairan, termasuk cairan yang yang berfungsi untuk membuat feses lebih lunak.

Akibatnya, feses akan mengeras dan sulit untuk dikeluarkan. Selain fesesnya yang mengeras dan sulit keluar, bayi juga bisa tampak lemas, jarang buang air kecil, bibirnya kering, serta tidak mengeluarkan air mata saat menangis.

3. Konsumsi makanan padat

Ketika baru mulai MPASI, bayi bisa saja menjadi susah BAB. Alasannya, sistem pencernaan bayi “kaget” untuk mencerna makanan padat karena sebelumnya selalu mengonsumsi makanan cair.

Bayi juga bisa mengalami sembelit apabila makanan padat yang dikonsumsi kurang banyak mengandung serat, seperti roti atau nasi. Oleh karena itu, pastikan bayi mengonsumsi makanan padat yang tinggi serat ya, Bun, seperti buah-buahan atau sayur-sayuran. Dengan begitu, bayi bisa terhindar dari sembelit.

4. Intoleransi laktosa

Ini merupakan kondisi ketika saluran cerna bayi tidak bisa mencerna dan menyerap laktosa, yakni jenis gula alami yang terdapat pada susu. Biasanya, bayi yang mengalami intoleransi laktosa akan mengalami gejala berupa gangguan pencernaan, seperti sembelit maupun diare, setelah mengonsumsi susu sapi. 

5. Penyakit tertentu

Terkadang, sembelit pada bayi juga bisa disebabkan oleh penyakit tertentu, seperti alergi makanan atau susu, hipotiroidisme kongenital, kelainan sumsum tulang belakang, serta penyakit Hirschsprung. Meski demikian, penyebab bayi susah BAB yang satu ini lebih jarang terjadi. 

Cara Mengatasi Bayi Susah BAB

Apabila Bunda menyadari Si Kecil susah BAB, cobalah untuk tidak khawatir berlebihan dulu, ya. Soalnya, ada kok beberapa cara yang bisa dicoba untuk mengatasi sembelit pada bayi, yaitu: 

  • Berikan pijatan pada perut Si Kecil dengan lembut mulai dari arah pusar lalu memutar ke seluruh sisi perut. Bunda bisa menggunakan minyak telon untuk membuat perut Si Kecil hangat sekaligus untuk mengatasi kembung.
  • Coba berikan stimulasi agar Si Kecil lebih banyak bergerak, misalnya dengan mengajaknya merangkak. Kalau Si Kecil belum bisa merangkak, gerakkan kaki Si Kecil seperti mengayuh sepeda ketika berbaring.
  • Apabila Si Kecil minum susu formula, coba ganti merek susu formula yang dikonsumsi Si Kecil. Untuk menentukan jenis susu formula yang cocok untuk Si Kecil, Bunda bisa berkonsultasi ke dokter.
  • Berikan Si Kecil makanan padat yang kaya akan serat, seperti gandum utuh atau kacang-kacangan. Sajikan dalam porsi kecil terlebih dahulu.
  • Pastikan kebutuhan cairannya selalu terpenuhi, misalnya dengan memberikan ASI lebih banyak. Apabila usianya sudah di atas 6 bulan, Si Kecil bisa diberikan air putih atau buah dan sayur yang dihaluskan.
  • Mandikan Si Kecil dengan air hangat guna menstimulasi gerakan usus agar lebih mudah mengeluarkan kotoran. 

Biasanya, bayi susah BAB bisa diatasi dengan cara di atas, Bun. Jadi, apabila Si Kecil masih susah BAB setelah cara-cara di atas diterapkan, segera periksakan Si Kecil ke dokter, ya. Dengan begitu, penanganannya pun bisa segera dilakukan.

Sumber:

National Health Services U.K. (2023). Baby. Constipation and Breastfeeding.

National Institutes of Health (2022). MedlinePlus. Constipation in Infants and Children.

Pregnancy Birth and Baby Australia (2023). Constipation in Babies (0 to 1 Years).

Nationwide Children’s Hospital (2022). Conditions We Treat. Constipation in Infants.

Miles, K. Baby Center (2024). Constipation in Babies.

Crider, C. Healthline (2021). What to Do If You Suspect Formula Is Constipating Your Baby.

Iftikhar, N. Healthline (2020). How to Recognize and Treat Dehydration in Babies and Toddlers.

Holland, K. Healthline (2018). The Best Remedies for Your Baby’s Constipation.

Henry, A.K. Parents (2023). Constipation in Babies: Symptoms, Causes, and Cures.

Perry, C. The Bump (2023). How to Identify and Relieve Baby Constipation.

Sood, M. UpToDate (2023). Patient Education: Constipation in Infants and Children (Beyond the Basics).

By dr. Kevin Adrian Djantin

Project and Collaboration Medical Editor Alodokter

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *