Nutrisi Penting Selama Menyusui

Kebutuhan nutrisi untuk ibu menyusui tentunya berbeda dengan yang tidak. Pada umumnya, ibu menyusui membutuhkan lebih banyak kalori untuk memenuhi kebutuhan gizinya.

Secara umum, direkomendasikan tambahan 450 hingga 500 kilo kalori (kkal) dari kebutuhan sebelum hamil, yang sekitar 2.000-2.300 kkal per hari. Jumlah kalori tambahan ini dipengaruhi oleh umur, indeks massa tubuh, tingkat aktivitas dan tingkat pemberian ASI, apakah ASI eksklusif atau susu formula.

Berikut panduan nutrisi penting pascamelahirkan dan selama menyusui.

Batasi Makanan Tertentu

Bagi ibu menyusui, tidak ada larangan atau pantangan dalam mengonsumsi makanan. Asalkan tidak memiliki alergi, ibu menyusui boleh makan apa saja. Meski demikian, konsumsi makanan tertentu tetap perlu dibatasi. Di antaranya:

Kafein

Misalnya kafein yang terdapat pada kopi, teh, soda, minuman berenergi dan cokelat. Karena konsumsi kafein yang berlebihan bisa menyebabkan bayi rewel. Bayi baru lahir dan prematur membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memecah kafein, sehingga ibu perlu mempertimbangkan untuk mengurangi konsumsinya.

Ikan

Tak hanya kafein, ibu menyusui juga sebagainya berhati-hati dalam mengonsumsi ikan, terutama ikan laut dalam. Sekalipun mengandung vitamin dan mineral penting, banyak ikan dan makanan laut lainnya yang mengandung merkuri, yang dapat terkonsumsi oleh bayi melalui ASI.

Efek merkuri bisa memengaruhi otak dan sistem saraf bayi yang disusui. Sebaiknya pilih ikan tawar, seperti bandeng, mas, dan sebagainya.

Konsumsi Makanan Variatif dan Kaya Rasa

Selain itu, sebaiknya ibu menyusui juga mengonsumsi makanan yang variatif dan kaya rasa. Sebagai informasi, bayi sudah memiliki daya pengecap sejak dalam kandungan dan dapat merasakan air ketuban ibu. Ketika lahir, bayi mendapatkan ASI, yang kaya rasa mulai dari rasa manis, asin, gurih, pahit, bahkan pedas.

Oleh karenanya, pada ibu hamil, penting untuk mengonsumsi makanan yang tidak hanya bernutrisi tinggi tapi juga kaya rasa karena erat kaitannya dengan indra perasa dan pengecap bayi. Bayi yang kurang terpapar makanan yang kaya rasa berisiko menjadi picky eater. Pasalnya, jika ibu tidak makan satu makanan atau rasa tertentu, maka si bayi tidak mengenal rasa tersebut.

By dr. Kanya Ayu P., Sp. A

Dokter Spesialis Anak

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *