Apa Itu Stunting dan Bagaimana Mencegahnya?

Stunting (kerdil) berisiko terjadi pada balita yang kekurangan gizi dan nutrisi, bisa sejak dari kandungan. Yuk, kenali untuk menghindarinya. 

Apa Itu Stunting?

Stunting adalah kondisi saat balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan balita rata-rata usianya atau di bawah standar dari kurva pertumbuhan WHO (World Health Organization). Menurut data WHO, pada 2017 Indonesia menjadi negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di Asia Tenggara sehingga stunting menjadi masalah gizi utama yang dihadapi Indonesia.

Apa Penyebab Stunting?

Stunting disebabkan oleh kekurangan gizi yang terjadi secara kronik, baik karena asupan nutrisi yang kurang maupun karena adanya keadaan patologis seperti penyakit. Beberapa faktor risiko yang membuat seorang anak mengalami stunting seperti:

Kondisi sosial ekonomi keluarga 

Makanan bernutrisi dan bergizi sehat tidak dapat dijangkau keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas.

Kebersihan lingkungan rumah dan sekitar

Masih banyak keluarga yang belum memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi bersih, sehingga berisiko mengalami penyakit infeksi seperti diare atau infeksi cacing.

Kurangnya gizi ibu saat hamil

Pada 2017, sekitar 32% remaja putri di Indonesia berisiko kekurangan energi kronik (KEK). Pernikahan di usia remaja masih cukup tinggi di Indonesia, sehingga banyak di antara mereka yang menjadi ibu. Remaja putri dengan status gizi dan tingkat pengetahuan rendah mengenai nutrisi, berisiko mengandung janin yang juga mengalami kekurangan nutrisi. 

Kurangnya gizi bayi setelah lahir 

Bayi yang tidak diberi ASI eksklusif selama 6 bulan pertama dan tidak mendapat asupan nutrisi yang cukup berisiko mengalami kurang gizi.

Ibu yang masih remaja atau justru terlalu tua saat memiliki anak

Ibu yang hamil di bawah usia 20 berisiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah, karena tidak siap baik secara fisik maupun psikologis untuk menjadi seorang ibu. Kondisi ini memengaruhi sekitar 20% terjadinya stunting.

Sayangnya, data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa setengah dari perempuan Indonesia mengalami kehamilan pertama pada usia muda atau remaja.

Jarak kehamilan yang terlalu dekat 

Jarak kehamilan yang terlalu dekat berisiko menyebabkan anak tidak mendapat gizi dan perhatian yang diperlukan.

Penyakit infeksi yang kronis dan atau berulang 

Anak yang mengalami sakit akan cenderung tidak nafsu makan dan dapat mengalami penurunan berat badan. Jika berlangsung dalam waktu yang lama atau berulang, tentu akan menyebabkan anak mengalami gagal tumbuh dan akhirnya menjadi stunting

Bagaimana Efek Stunting?

Hal yang menjadikan stunting menjadi masalah yang penting adalah bukan semata-mata tinggi badan yang kurang (perawakan tubuh pendek), tapi karena adanya gangguan perkembangan otak yang bersifat ireversibel. Terutama jika terjadi sejak dini, karena masa emas perkembangan otak yaitu pada 1000 hari pertama kehidupan sudah terlewati.

Tingginya angka stunting pada anak usia balita apalagi batita atau bayi menjadi ancaman bagi generasi penerus bangsa. Pemerintah sudah berupaya menurunkan angka stunting di Indonesia, namun di beberapa daerah masih banyak mengalami tantangan.

Mengingat perbaikan gizi yang dilakukan pada anak yang sudah stunting tidak akan mengembalikan gangguan yang sudah terjadi pada perkembangan otak, maka upaya pencegahan anak menjadi stunting sebaiknya menjadi fokus utama pemerintah, tenaga kesehatan dan juga masyarakat.

Bagaimana Mengatasi dan Mencegah Stunting?

Langkah terpenting agar balita terhindar dari stunting adalah memenuhi kebutuhan nutrisi bayi sejak dari kandungan yang didukung dengan langkah-langkah berikut:

  • Inisiasi menyusu dini setelah bayi lahir.
  • ASI eksklusif sejak lahir selama 6 bulan.
  • Makanan pendamping ASI (MPASI) sampai dengan 2 tahun secara adekuat dan diproses secara higienis.
  • Konsumsi makanan bernutrisi sehat untuk ibu hamil dan menyusui.
  • Konsumsi suplemen vitamin dari dokter selama kehamilan.
  • Pemeriksaan kesehatan kandungan secara teratur.
  • Konsumsi makanan sehat pada anak, terutama saat dan setelah anak sakit.
  • Konsumsi makanan bernutrisi tinggi untuk remaja perempuan untuk mencegah anemia.
  • Pemberian imunisasi pada anak dan remaja sesuai jadwal yang dianjurkan.
  • Menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Dengan memenuhi kebutuhan nutrisi sejak hamil dan mengikuti petunjuk dokter, balita dapat terhindar dari stunting dan tumbuh dengan baik.

Sumber: 

  • Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2018. Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia UNICEF South Asia Strategy 2014-2017.
  • StopStunting.org. Stop Stunting in South Asia.

By dr. Anita Halim, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *