Apa Itu Makrosomia dan Bagaimana Mencegahnya?

Bunda yang sedang menantikan kehadiran si Buah Hati maupun yang sedang mempersiapkan kehamilan, ada baiknya untuk mengetahui tentang makrosomia, alias bayi besar, penyebab terjadinya serta cara pencegahannya. 

Apa itu Makrosomia?

makrosomia
Foto: freepik.com

Menurut jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh American Family Physician tentang panduan dari menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) pada tahun 2001, istilah fetal makrosomia adalah kondisi pertumbuhan janin dengan berat badan di atas rata-rata—antara 4000 gram hingga 4500 gram—tanpa melihat usia janin.

Diperkirakan kasus makrosomia ini terjadi sebanyak 9% kelahiran bayi di dunia. 

Perlu diketahui bahwa bayi baru dapat dinyatakan mengalami makrosomia setelah dilahirkan. Pasalnya, hingga kini metode diagnostik prenatal yang dilakukan oleh tenaga medis, misalnya melalui pemeriksaan klinis, perkiraan risiko dari kondisi Bunda, maupun pengukuran janin melalui USG masih belum bisa melakukan pengukuran dengan tepat. 

Siapa yang Berisiko Hamil dengan Kondisi Bayi Makrosomia?

makrosomia
Foto: freepik.com

Meskipun hingga kini dokter belum dapat memastikan alasan sebagian bayi dilahirkan dalam kondisi makrosomia, namun ada beberapa faktor yang dianggap dapat meningkatkan risiko bayi besar, di antaranya:

  • Bunda hamil di atas usia 35 tahun.
  • Bunda punya riwayat tekanan darah tinggi.
  • Bunda dulu dilahirkan dalam kondisi makrosomia.
  • Bunda adalah pengidap diabetes, baik tipe 1, tipe 2, maupun gestasional atau yang terjadi karena kehamilan. Tanpa dilakukan penanganan sejak awal, hampir bisa dipastikan bahwa si Kecil akan mengalami makrosomia.
  • Bunda mengalami kenaikan berat badan yang cukup drastis selama kehamilan. 
  • Di kehamilan sebelumnya, Bunda mengalami persalinan bayi yang kondisinya makrosomia.
  • Masa kehamilan Bunda lewat dari 40 minggu. Perlu diingat bahwa semakin lama si Kecil berada di dalam perut Bunda, berarti akan semakin besar juga tubuhnya bertumbuh.

Bagaimana dengan kondisi si Kecil? Bila memang dinyatakan positif mengalami makrosomia, risiko yang akan terjadi pada dirinya adalah selain berisiko tumbuh dengan obesitas. Juga kemungkinan akan mengalami kadar gula darah yang abnormal saat lahir, mempertinggi risikonya akan mengalami diabetes, juga tekanan darah tinggi saat dewasa kelak. 

Apa Saja Komplikasi yang Mungkin Terjadi?

Foto: freepik.com
  • Persalinan yang sulit. Kondisi bayi yang besar bisa menyebabkan bahunya tersangkut pada jalan lahir, mengalami cedera lahir bahkan fraktur tulang, atau membutuhkan perangkat khusus seperti forceps atau vakum untuk membantu persalinan. Dalam beberapa kasus, bahkan diperlukan pembedahan caesar.
  • Terjadinya cedera pada jalan lahir atau robekan pada otot perineum (otot di antara vagina dan anus).
  • Risiko perdarahan pascapersalinan. Kondisi bayi yang terlalu besar bisa meningkatkan risiko di mana otot rahim Bunda sulit berkontraksi setelah persalinan. Hal ini dapat menimbulkan masalah perdarahan yang serius.
  • Risiko ruptur uteri atau robekan pada dinding rahim, terutama bila pada persalinan sebelumnya Bunda menjalani pembedahan caesar atau pernah menjalani bedah mayor pada rahim. Kondisi ruptur ini sebenarnya cukup langka terjadi, namun merupakan komplikasi yang serius. Bila hal ini terjadi, dokter akan melakukan pembedahan caesar darurat.

Apakah Makrosomia Bisa Dicegah?

Foto: freepik.com

Kondisi makrosomia memang agak sulit untuk diprediksi, meskipun banyak faktor pemicu yang menyertainya. Tindakan pencegahan pun bisa menjadi cukup sulit. 

Namun demikian, ada beberapa hal yang dapat Bunda lakukan untuk mengurangi risiko makrosomia pada si Kecil, yaitu:

  • Melakukan cek gula darah secara teratur, terutama pada Bunda yang memang mengidap diabetes tipe 1, tipe 2, juga diabetes gestasional. 
  • Mengurangi asupan gula. Kadar gula yang terlalu tinggi bisa menyebabkan si Kecil tumbuh semakin besar.
  • Menerapkan pola makan nutrisi seimbang dengan komposisi asupan berupa karbohidrat kompleks, serat makanan, rendah kolesterol, rendah lemak jenuh dan gula. Perbanyak buah dan sayuran segar serta air. 
  • Jangan sampai berat badan melonjak drastis. 
  • Melakukan olahraga ringan secara rutin.

Sumber:

American Family Physician. 2001. ACOG Issues Guidelines on Fetal Macrosomia.

What to Expect. 2020. Fetal Macrosomia.

Healthline. 2017. How Macrosomia Affects Pregnancy. 

Mayo Clinic. 2020. Fetal Macrosomia.

By dr. Linda Lestari, Sp.OG

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *