Sering Lelah dan Mudah Marah? Waspada Burnout!

Apakah akhir-akhir ini Bunda cepat merasa lelah walau tingkat aktivitas tidak terlalu banyak? Atau Bunda merasa menjadi lebih cepat marah tanpa sebab? Seringkali kondisi-kondisi tersebut kita abaikan, bahkan dianggap sepele, namun ciri-ciri tersebut dapat menandakan bahwa Bunda sedang mengalami burnout.

Jika kondisi burnout Bunda terus dibiarkan, hal ini tentu dapat mengganggu aktivitas sehari-hari serta dapat menjadi pemicu gangguan kesehatan mental yang lebih serius.

Burnout merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi kelelahan mental yang mengakibatkan stres berat. Biasanya kondisi ini dapat disebabkan karena beratnya beban pekerjaan, tekanan dalam rumah tangga, atau hal-hal lain yang dapat menjadi pemicu stres.

Seseorang yang mengalami burnout cenderung menunjukkan suasana hati yang buruk, mudah cemas, serta kerap berpikiran negatif akan banyak hal. Selain dapat mempengaruhi kondisi psikis, burnout atau stres berat juga dapat mempengaruhi kondisi fisik Bunda. Keluhan-keluhan yang biasanya muncul adalah sakit kepala dan pegal-pegal, nyeri, mudah terserang penyakit, serta mengalami perubahan nafsu makan dan gangguan tidur.    

BACA: Memahami Apa itu Self-Healing dan Cara Melakukannya

Ciri-ciri Burnout

Ciri-ciri burnout dapat berbeda pada setiap orang tergantung bagaimana respon mereka dalam menghadapi stres serta bagaimana tingkat kekuatan mentalnya. Kondisi seseorang dalam menghadapi stres juga sangat dipengaruhi dan mempengaruhi faktor fisik. Walaupun gejala burnout pada tiap orang berbeda-beda, berikut ini beberapa ciri-ciri umum saat seseorang mengalami burnout :

  •  Mudah lelah dan merasa kekurangan energi

Salah satu ciri yang paling umum saat orang mengalami burnout adalah selalu merasa lelah, lemas, dan kekurangan energi. Tak jarang, Bunda yang sedang burnout merasa sangat lelah padahal Bunda baru saja bangun dari tidur. Kondisi ini akhirnya menyebabkan Bunda memilih untuk lebih banyak tidur dan bermalas-malasan. Badan juga terasa lesu dan kurang bersemangat dalam menjalankan aktivitas 

  • Mudah marah

Rasa stres yang menumpuk saat burnout dapat membuat seseorang merasa lebih emosional dan sensitif sehingga mudah marah. Hal ini disebabkan karena Bunda mengalami kelelahan secara emosional sehingga saat Bunda menghadapi situasi tidak sesuai harapan, Bunda akan lebih mudah marah. Seseorang yang mengalami burnout menjadi sangat sensitif akan hal-hal kecil yang tidak sesuai ekpektasi dan sangat sulit menoleransi perubahan. 

  • Kehilangan semangat untuk bekerja atau beraktivitas

Burnout dapat membuat seseorang kehilangan minat serta motivasi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Bunda akhirnya menghindari tanggung jawab dan menunda-nunda pekerjaan dengan alasan “nggak mood”. Hal ini tentu dapat menghambat produktivitas dan akan membuat pekerjaan semakin menumpuk. Kinerja kita pun akan mengalami penurunan.  

  •  Sering merasa khawatir

Orang yang mengalami burnout biasanya lebih sering berpikiran negatif sehingga sering merasa khawatir, meragukan diri sendiri, dan merasa tidak bisa apa-apa. Beban pekerjaan serta tekanan rumah tangga juga dapat membuat seseorang yang sedang mengalami burnout merasa kewalahan, tidak berdaya, sehingga menyalahkan diri sendiri ataupun orang lain.

  •  Perubahan nafsu makan

Menurut psikolog Susan Albers dari Cleveland Clinic, stres dan nafsu makan merupakan dua hal yang saling berkaitan. Pada sebagian orang, rasa stres dapat menyebabkan penurunan nafsu makan dan cenderung mengabaikan sinyal lapar.  Sebaliknya, ada juga sebagian orang yang justru makan secara berlebihan untuk melampiaskan rasa stres mereka.

  •  Mudah sakit

Stres berkepanjangan akibat burnout dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga akan lebih mudah sakit.  Beberapa penyakit yang rentan dialami oleh orang yang sedang stres antara lain flu, pilek, sakit kepala, dan sakit perut. Selain itu, orang yang mengalami burnout juga kerap mengalami gangguan tidur yang dapat menjadi pemicu gangguan kesehatan lain seperti stroke, diabetes, dan hipertensi.

  •  Gangguan tidur

Stres dan gangguan tidur merupakan dua hal yang mempengaruhi satu sama lain. Saat orang dilanda stres berlebihan, hal ini dapat membuatnya sulit tidur dan menjadi penyebab penyakit insomnia, karena memikirkan berbagai hal buruk. Begitu juga sebaliknya, gangguan tidur juga dapat menjadi pemicu stres. Orang yang kualitas tidurnya buruk cenderung memiliki kondisi emosional yang kurang stabil dan mudah stres.

  • Mengasingkan diri

Sebagian orang yang sedang burnout cenderung menarik diri dari dunia sosial. Beberapa penyebabnya adalah pikiran buruk akan diri sendiri dan orang lain, cemas dijauhi, takut mengecewakan orang lain, merasa bersalah, bahkan menganggap hidup orang lain jauh lebih enak. Hal ini membuat orang yang mengalami burnout  memilih untuk menyendiri dan enggan bercerita pada orang lain akan kondisi mereka. Perilaku ini akan memperparah kondisi, bahkan bisa meningkatkan stres yang dapat menimbulkan berbagai gangguan emosi, seperti kecemasan dan depresi. 

BACA: Belajar Regulasi Emosi, Yuk Bunda!

Cara Mengatasi Burnout

Setiap orang pasti pernah mengalami stres, termasuk Bunda. Stres adalah hal yang wajar, tapi stres yang berlebihan dan terus menumpuk dapat menjadi pemicu terjadinya burnout. Burnout yang tidak diatasi dengan baik dapat menghambat aktivitas, karena Bunda menjadi tidak semangat dan sering merasa kelelahan.

Burnout pun menyebabkan suasana hati menjadi buruk dan menurunkan minat untuk berinteraksi dengan orang lain. Kondisi ini dapat menjadi pemicu masalah di tempat kerja, keluarga, bahkan konflik dalam rumah tangga. Untuk itu, berikut ini beberapa cara untuk mengatasi burnout pada Bunda : 

1. Istirahat yang cukup

2. Minta dukungan dari orang-orang terdekat

3. Biasakan berpikir positif

4. Manjakan diri sendiri

5. Olahraga rutin

6. Konsumsi makanan yang sehat

7. Minta bantuan profesional

Berikut adalah cara-cara yang dapat Bunda lakukan untuk mengatasi burnout. Sebenarnya langkah utama penanganan burnout adalah dengan perawatan diri, pola hidup yang sehat, meluangkan waktu untuk kegiatan yang membuat Bunda lebih senang maupun rileks, seperti memanjakan diri, liburan, melakukan hobi, atau hanya sekedar beristirahat. Upayakan juga untuk tetap rutin berinteraksi ya, terutama dengan orang-orang terdekat.

Bercerita dan minta dukungan dari keluarga dan orang-orang tersayang itu boleh loh! Bila cara-cara tersebut tidak dapat meredakan burnout yang Bunda alami dan kondisi ini sudah berlangsung lebih dari 3 bulan berturut-turut, sebaiknya Bunda memeriksakan diri ke psikolog atau psikiater untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

BACA: Serba Salah Dalam Hubungan? Waspadai Perilaku Ini Bun

Sumber:

Choosing Therapy. 2021. Mom Burnout: Symptoms, Causes & How to Recover

Parents. 2019. 15 Signs of Caregiver Burnout and How to Recover

Today. 2018. Stop the Yelling: How to Know of You Have Mommy Burnout, and What to do About It

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *